DAFTAR ISI www.anak-sholeh.co.cc

Sabtu, 18 Agustus 2012

Belajar dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam Berbakti Kepada Orang Tua

Anak-Sholeh.co.cc - Siapa yang tidak kenal Nabi Ibrohim ‘alaihissalam? Setiap muslim pasti mengenalnya. Beliau dikenal sebagai nabi yang kokoh akidahnya, nabi yang keras terhadap penguasa yang dzalim, Nabi yang taat dalam menjalankan perintah ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala, dan juga orang tua yang sukses karena bisa mencetak 2 putranya (Nabi Ismail dan Nabi Ishaq ‘Alaihumassalam) menjadi anak yang sholeh sekaligus menjadi manusia pilihan / nabi. Bahkan, beliau satu-satunya nabi, selain Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam yang namanya disebut dalam bacaan sholat

Bukan hanya itu, ternyata beliau juga bisa dijadikan sebagai suri tauladan yang baik bagi kaum muslimin dalam hal berbakti kepada orang tuanya. 

Adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala langsung yang memerintahkan kepada Nabi Muhammad sholallahu ‘alaihi wasallam untuk menceritakan kisah Nabi Ibrohim sebagai pelajaran bagi umat manusia. “Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi” (QS Maryam [19]: 41). 

Kisah yang dimaksud adalah dialog Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam dengan bapaknya yg dalam satu riwayat dikenal dengan nama Azar (lihat Qishosul Anbiya karya Ibnu Katsir) 

Alquran mengabadikan dialog tersebut “Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?. Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan." (QS Maryam: 42-45). 

Mendapatkan nasehat dari Ibrahim, anaknya, sang bapak memberikan reaksi yang sangat keras dengan mengatakan "Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama." (QS Maryam : 46). 

Mendengar jawaban sang bapak, nabi Ibrohim memberi jawaban dengan sangat halus dan tetap mendoakan sang Bapak "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan memintakan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku. Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku." (QS Maryam: 47-48). 

Bahkan di akherat kelak, Nabi Ibrohim akan menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar memasukkan sang bapak ke Syurga. “Ibrahim menemui bapaknya, Azar pada hari kiamat kelak, sedang wajah Azar Kusut Berdebu. Maka Ibrahim berkata kepadanya, ‘Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, jangan engkau maksiat padaku? ‘Bapaknya berkata kepadanya, ‘Pada hari ini aku tidak lagi mendurhakaimu. ‘Lalu Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, Sesungguhnya Engkau telah berjanji kepadaku, bahwa Engkau tidak akan menghinakanku pada hari dibangkitkannya manusia. Adakah yang lebih menyedihkanku, dari jauhnya bapakku dariku? Maka Allah Menjawab, ‘Sesungguhnya Aku telah mengharamkan Syurga bagi orang-orang kafir’.. (HR Bukhori), Qishosul Anbiya hal 215, Amelia 2008. 

Dari kisah Nabi Ibrohim ini, setidaknya kita bisa mengambil beberapa pelajaran penting bagaimana seharusnya anak bersikap terhadap orangtunya: 

    1. Anak yang sholeh tidak akan membiarkan orang tua yang dikasihinya berada dalam kesesatan. Dia akan menasehati orangtuanya agar kembali kepada jalan yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dalam menasehati kesesatan / kesalahan orang tua, tentu harus menggunakan kata-kata yang lembut meski tetap tegas.   
    2. Meski ditentang oleh sang Bapak, bahkan diancam dengan rajam, Nabi Ibrohim ‘alaihissalam tetap hormat dan mengharapkan kebaikan bagi sang Bapak.  
    3. Diakherat kelak, anak yang sholeh bisa meminta kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar disatukan dengan orangtuanya. Hanya saja, dalam contoh Nabi Ibrohim, sang bapak adalah orang kafir sehingga permintaannya ditolak.   
    4. Nabi Ibrohim ‘alaihissalam tetap hormat dan tidak benci dengan bapaknya, meski sang bapak melakukan kesalahan yang paling besar yang dilakukan oleh manusia yaitu menyekutukan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sehingga tidak layak bagi seorang muslim membenci atau mendendam kepada orang tua hanya karena kesalahan yang dilakukan oleh orang tua di masa silam. Orang tua yang mampu tapi tidak menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi misalnya, atau kesalah-kesalahan lainnya. 

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrohim ‘alaihissalam di atas. Semoga bisa menjadi bekal dalam berbakti kepada kedua orang tua. Amiin. 

Brebes, Sabtu 18 Agustus 2012 / 30 Romadlon 1433 H. 

Mabsus Abu Faatih Selengkapnya...

Selasa, 28 Februari 2012

Menjadi Ibu Kreatif

Menjadi ibu adalah sunatullah bagi para perempuan. Sebuah fase kehidupan yang seolah mengalir, tampak mudah dilakoni oleh semua perempuan. Padahal, banyak hal baru yang ditemui ibu seiring dengan perannya sebagai manajer rumah tangga.

Saat menikah, ia dituntut mampu melayani suami dengan baik. Menyediakan makanan kesukaannya, segala keperluannya, hingga memuaskan nalurinya. Lalu ketika hamil, ia harus belajar bagaimana menjadi calon ibu. Apa yang harus dilakukan selama masa kehamilan, bagaimana agar lancar dalam persalinan, dst. Begitu si kecil lahir, tambah banyak lagi pelajaran yang harus diserap ibu: bagaimana cara menyusui, merawat bayi, jika bayi sakit, dst. Ketika di bayi tumbuh menjadi kanak-kanak, ibu harus terus memberikan rangsangan, mendampinginya bermain sembari belajar, mengajarkannya berbagai ilmu kehidipan, dst. Pendek kata, ibu adalah murid, di mana sepanjang usianya harus terus belajar. Sebab, tidak ada ilmu pasti, bagaimana menjalankan peran sebagai ibu. Setiap saat, setiap waktu ada pelajaran baru yang harus dipelajarinya. Untuk itu, ibu dituntut kreatif, terlebih memang tidak ada sekolah khusus bagi kaum ibu.

Berikut beberapa tips yang bisa Anda lakukan untuk menjadi kreatif:

1. Mencoba hal-hal baru

Dalam hal apapun, ibu jangan takut mencoba hal-hal baru yang selama ini belum pernah dilakukan. Yang penting halal, boleh dipraktikkan. Seperti mencoba resep masakan baru, yang belum pernah disajikan di rumah. Menyediakan cemilan yang belum pernah disajikan, sehingga penghuni rumah tidak bosan. Termasuk mendesain ulang interior. Ya, sekali waktu, ubahlah penempatan perabot rumah atau mengganti warna cat tembok. Suasana baru, akan menimbulkan semangat baru. Terlebih anak-anak, cepat sekali bosan. Desain ulang kamarnya, niscaya membuat anak betah beraktivitas di kamar “baru”-nya.

2. Terus belajar

Belajar bisa dilakukan kapan saja, di mana saja dan melalui cara apa saja. Ibu pun harus menambah wawasannya, baik membaca buku, mengikuti pelatihan/seminar, browsing internet, dll. Dalam kaidah Islam ada ungkapan seperti: “belajarlah sampai ke negeri Cina”, “belajar dari sejak buaian ibu sampai ke liang lahat”, ”untuk meraih kebahagaiaan di dunia capailah dengan ilmu, untuk meraih kebahagiaan di akhirat capailah dengan ilmu dan untuk meraih kedua-duanya capailah dengan ilmu”. Itu adalah ungkapan untuk memotivasi kita dalam membangun semangat belajar. Dan orang yang selalu belajar akan memiliki pola pikir kreatif dalam kesehariannya.

3. Sharing dengan orang-orang kreatif

Jika ingin mengetahui karakter seseorang, lihatlah dengan siapa dia berteman. Itu mungkin ungkapan yang tepat untuk menggambarkan betapa pentingnya arti seorang teman. Jika Anda selalu berhubungan dengan orang-orang kreatif, Anda akan menjadi orang kreatif. Jadi, sekali waktu ngobrollah dengan teman soal kerumahtanggaan. Muslimah tak harus membahas soal dakwah melulu dengan teman satu pengajian, tapi juga sharing tentang pernak-pernik rumah tangga. Niscaya ada inspirasi-inspirasi baru dari obrolan itu.

4. Ciptakan suasana kondusif

Buatlah rumah tempat yang nyaman dan menyenangkan bagi seluruh anggota keluarga, juga tamu atau saudara yang datang. Suasana yang menyenangkan (fun), penuh rasa humor, spontan, dan memberi ruang bagi individu untuk melakukan berbagai permainan atau percobaan. Jangan jadikan rumah tegang karena seluruh penghuni serius atau lengang tanpa obrolan plus candaan. Meski tetap menjaga suasana spiritual, memegang teguh rasa hormat, kepercayaan dan komitmen sebagai norma yang berlaku, suasana rumah yang “cair” membantu penghuni merasa bahagia.(kholda)

Sumber = Tabloid Media Umat edisi 62
Selengkapnya...

Rabu, 19 Januari 2011

Lindungi Anak dari Bahaya Internet

Internet saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok. Banyak keluarga berlangganan internet, sehingga anggota keluarga dapat mengaksesnya dengan mudah. Selain itu, kehadiran telepon seluler juga memungkinkan seseorang dapat mengakses internet kapan saja dan dari mana saja. Tak terkecuali anak-anak. Terlebih munculnya jejaring sosial seperti facebook dan twitter, membuat anak-anak ketagihan internet. Mengapa? Karena mereka mendapatkan pengalaman baru dan kenyamanan dengan berinternet. Mereka mendapat sesuatu dari dunia maya yang tidak bisa didapatkan di dunia nyata.

Di dunia maya, seseorang bisa menjadi orang lain yang diinginkannya. Misal, seorang anak yang pemalu atau bahkan minder, menjadi agresif ketika berkenalan melalui chatting, e-mail atau faceebook. Ia lebih percaya diri karena temannya di dunia maya tidak tahu dia dalam dunia nyata. Anak-anak itu juga dapat membuat diri mereka menjadi karakter ideal, seperti cantik, kaya, atau hal lain yang mungkin berbeda dengan kehidupan nyata mereka.

Pertemanan tanpa batas pun terjadi, termasuk yang menjurus pada masalah intim.Ya, internet telah menjadi media bagi maniak seks bebas untuk mencari mangsa. Bayangkan, menurut data, ada 750.000 predator seksual setiap hari yang memanfaatkan ruang rumpi (chatting room) untuk berkenalan, kemudian merayu untuk melakukan hubungan seks. Mereka umumnya membidik para ABG yang belum berpengalaman dalam interaksi sosial. Bukankah sudah banyak remaja yang hilang kegadisannya setelah kopi darat dengan teman chatting-nya di dunia maya?

Karena itu, wajib bagi orang tua melindungi anak dari bahaya penggunaan internet, seperti pornografi dan para predator seksual. Beberapa tips berikut bisa dicoba:

1. Pahamkan tentang hukum internet dan pemanfaatannya.

Memang, dari sisi teknologi internet tidak haram, tapi kalau dimanfaatkan untuk hal-hal yang diharamkan akan menjadi haram. Tanamkan rasa takut pada Allah SWT, sehingga walau orang tua tidak ada, dia tahu bahwa Allah SWT memperhatikan dan melihat apa yang dilakukannya. Misal saat muncul situs porno, mereka dapat mengambil tindakan yang tepat. Mereka juga dapat memilah teman-temannya di facebook.

2. Orang tua jangan gaptek

Jangan mengganggap diri terlalu tua atau terlalu bodoh untuk mempelajari internet. Jadi, jangan gaptek (gagap teknologi). Kalau perlu, berbagilah dengan anak untuk sama-sama memahami teknologi. Kalau anak punya akun facebook, hubungkan dengan akun Anda agar tahu apa isinya, walau mungkin pakai nama samaran.

3. Letakkan komputer di tempat yang mudah dilihat.

Kadang orang tua merasa bangga dapat memajang komputer yang terhubung internet di kamar anaknya. Hal ini sebenarnya akan membahayakan anak karena mereka dapat leluasa mengakses situs-situs yang tidak baik tanpa diketahui orang tua. Sebaliknya, dengan meletakkan di tempat terbuka, misalnya di ruang keluarga, Anda dapat memantau situs apa saja yang dibuka anak.

4. Batasi penggunaan internet

Jangan biarkan anak-anak terlalu asyik di dunia maya. Tetapkan berapa lama internet boleh digunakan dan situs apa saja yang boleh diakses. Jelaskan juga, mengapa Anda melakukan hal ini dan bantu anak untuk memahami keputusan ini. Tanamkan bahwa itu semua demi kebaikan anak, bukan mengekang.

5. Jaga komunikasi yang baik dengan anak

Luangkan waktu untuk bercanda dengan anak dan berkomunikasi dengan terbuka. Komunikasi yang baik dan keakraban akan memudahkan Anda untuk menanamkan nilai-nilai moral. Anda dapat menjelaskan kepada anak apa saja bahaya penggunaan internet agar mereka tidak mudah terkecoh.

6. Antisipasi agar anak tidak kecanduan.

Ciri anak yang kecanduan internet antara lain melupakan aktivitas sehari-hari, seperti belajar, mandi, dan salat. Umumnya anak akan marah bila dibatasi dalam menggunakan internet. Dia juga cenderung enggan berkomunikasi dengan orang lain dan bersifat tertutup, atau hanya mau berteman dengan orang tertentu saja. Bila kondisi ini sudah menggejala, perlu perlakuan khusus untuk menyadarkan anak agar memahami dampak buruk kecanduan internet. Ajak anak bicara dari hati ke hati, pahamkan bahwa ini semua demi kebaikan dan masa depannya.(kholda)

Sumber : Media umat edisi [37]
Selengkapnya...

Selasa, 21 September 2010

Terpancing Emosi Saat Anak Bandel

Terpancing Emosi Saat Anak Bandel
Diasuh oleh:
Dra (Psi) Zulia Ilmawati

Assalamu'alaikum Wr.Wb

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati. Saya ibu rumah tangga dengan satu putra yang kini berusia 3 tahun. Anak saya tiba-tiba sulit diatur. Apa yang saya perintahkan mulai suka ditolaknya. Tingkah lakunya semaunya sendiri, saya merasa ada yang berubah pada anak saya. Rasanya dulu tidak seperti itu, nurut-nurut saja. Kadang-kadang jika tidak dituruti kemauannya, nangis dan teriak-teriak. Situasi begini sering membuat saya menjadi tidak sabar. Tidak jarang terpancing emosi saya, kalau sedang capek dan anak mulai tidak bisa dikendalikan, terkadang saya ikut berteriak, marah-marah dan suka membentak. Setelah itu biasanya timbul penyesalan yang luar biasa. Karena sejatinya saya tidak ingin mendidiknya dengan cara seperti itu. Apa yang seharusnya saya lakukan agar bisa mengendalikan diri dan tidak terpancing emosi saat menghadapi anak saya. Terima kasih untuk saran-sarannya

Wassalamu'alaikum Wr.Wb.

Halimah
Jakarta Wa'alaikumsalam Wr.Wb.

Ibu Halimah yang baik ,

Dalam pandangan Islam, anak adalah anugerah yang diberikan Allah pada para orang tuanya. Kehadiran anak disebut sebagai berita baik (Maryam: 7), hiburan karena mengenakan pandangan mata (Al-Furqan:74), dan perhiasan hidup di dunia (Al-Kahfi:46). Anak juga sebagai bukti kebesaran dan kasih sayang Allah, pelanjut, penerus dan pewaris orang tua, tetapi juga sekaligus ujian (At-Taghabun:15). Sebagai amanah, semua yang dilakukan orang tua terhadap anaknya (bagaimana merawat, membesarkan dan mendidiknya) akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Itulah menjadi penting memahami bagaimana mendidik anak, mendoakannya selalu, sekaligus senantiasa menanamkan kesabaran saat mendidik mereka.

Ibu Halimah yang baik,

Munculnya sikap penolakan anak balita terhadap lingkungan sosialnya adalah bagian dari proses perkembangan yang alamiah. Walau tak semua anak bersikap demikian. Gejala seperti ini biasanya dimulai saat anak berusia 2,5 tahun sampai 3 tahun. Anak-anak ini mulai tumbuh sebagai pribadi, keakuannya mulai muncul dan ia mulai ingin membedakan dirinya dengan orang lain. Pada saat itu pula, si kecil sudah mulai mencoba keinginannya sendiri. Hal itulah yang lantas dipersepsi oleh para orang tua bahwa anak sudah mulai sulit diatur dan dianggap tidak patuh lagi. Tahapan perkembangan yang ditandai oleh 'perilaku sulit' ini Insya Allah akan mereda pada usia 4-5 tahun, seiring dengan perkembangan kemampuan berpikirnya dan aturan-aturan yang diterapkan orang tua.

Ibu Halimah yang baik,

Saya sangat bisa memahami, terkadang memang emosi kita akan ikut terpancing saat anak mulai sulit diatur. Dan tidak menutup kemungkinan akan muncul kemarahan. Tapi ingatlah, amarah sering kali akan mendekatkan diri kita kepada hal-hal yang berbahaya. Tanpa kita sadari anak terkadang akan menjadi sasaran kemarahan kita. Dan yang pasti, kemarahan tidak akan mendekatkan kita dengan surga. Rasulullah SAW bersabda:

"Dahulu ada seorang lelaki yang datang menemui Rasulullah SAW dan mengatakan, 'Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.' Maka beliau bersabda, 'Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan'." (HR. Thabrani).

Ibu Halimah yang baik,

Lalu bagaimana agar kita bisa mengatur emosi kita? Rasulullah SAW pernah menasihatkan:

"Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring." (HR. Ahmad).

Langkah berikut Insya Allah akan membantu mengendalikan kemarahan kita. Pertama, bacalah ta'awudz ketika marah. Kedua, ubahlah posisi ketika marah. Ketiga, diam atau tidak bicara. Berusahalah untuk menghindar dari situasi "panas", sambil terus beristighfar. Tarik nafas dalam-dalam sampai Anda cukup merasa lega. Ketika Anda diam, maka Anda akan menjaga diri dari berbicara atau berbuat sesuatu yang menyakitkan anak yang kemudian akan disesali, dan sekaligus Anda dapat menjadi model bagaimana mengontrol emosi diri sendiri bagi anak. Ambillah waktu sejenak untuk merencanakan dan merenungkan apa yang harus Anda lakukan. Keempat, berwudlulah. Jika keempat langkah tadi belum mampu meredakan amarah, ambillah langkah pamungkas, yaitu dengan melaksanakan shalat dua rakaat. Insya Allah dengan shalat amarah akan dapat diredakan, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

"Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu (amarah), maka hendaklah dia bersujud (shalat)".(HR Tirmidzi).[]

sumber: mediaumat.com
Selengkapnya...

Minggu, 25 Juli 2010

CARA PRAKTIS UNTUK MENGHAFAL AL-QUR AN

Segala puji Bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi kita Muhammad SAW. Dalam tulisan ini akan kami kemukakan cara termudah untuk menghafalkan al quran. Keistimewaan teori ini adalah kuatnya hafalan yang akan diperoleh seseorang disertai cepatnya waktu yang ditempuh untuk mengkhatamkan al-Quran.
Teori ini sangat mudah untuk di praktekan dan insya Allah akan sangat membantu bagi siapa saja yang ingin menghafalnya. Disini akan kami bawakan contoh praktis dalam mempraktekannya:
Misalnya saja jika anda ingin menghafalkan surat an-nisa, maka anda bisa mengikuti teori berikut ini:

1-Bacalah ayat pertama 20 kali:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا {1}

2-Bacalah ayat kedua 20 kali:
وَءَاتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلاَتَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا {2}
3-Bacalah ayat ketiga 20 kali:
وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا {3}

4-Bacalah ayat keempat 20 kali:
وَءَاتُوا النِّسَآءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِن طِبْنَ لَكُمْ عَن شَىْءٍ مِّنْهُ نَفَسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَّرِيئًا {4}

5-Kemudian membaca 4 ayat diatas dari awal hingga akhir menggabungkannya sebanyak 20 kali.
6-Bacalah ayat kelima 20 kali:
وَلاَتُؤْتُوا السُّفَهَآءَ أَمْوَالَكُمُ الَّتِي جَعَلَ اللهُ لَكُمْ قِيَامًا وَارْزُقُوهُمْ فِيهَا وَاكْسُوهُمْ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {5}

7-Bacalah ayat keenam 20 kali:
وَابْتَلُوا الْيَتَامَى حَتَّى إِذَابَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ ءَانَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلاَتَأْكُلُوهَآ إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهَدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَى بِاللهِ حَسِيبًا {6}

8-Bacalah ayat ketujuh 20 kali:
لِّلرِّجَالِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبُُ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَاْلأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ نَصِيبًا مَّفْرُوضًا {7}

9-Bacalah ayat kedelapan 20 kali:
وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُوْلُوا الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ فَارْزُقُوهُم مِّنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلاً مَّعْرُوفًا {8}

10-Kemudian membaca ayat ke 5 hingga ayat ke 8 untuk menggabungkannya sebanyak 20 kali.
11-Bacalah ayat ke 1 hingga ayat ke 8 sebanyak 20 kali untuk memantapkan hafalannya.
Demikian seterusnya hingga selesai seluruh al Quran, dan jangan sampai menghafal dalam sehari lebih dari seperdelapan juz, agar tidak berat bagi anda untuk mengulang dan menjaganya.

BAGAIMANA CARA MENAMBAH HAFALAN PADA HARI BERIKUTNYA?
Jika anda ingin menambah hafalan baru pada hari berikutnya, maka sebelum menambah dengan hafalan baru, maka anda harus membaca hafalan lama dari ayat pertama hingga terakhir sebanyak 20 kali juga hal ini supaya hafalan tersebut kokoh dan kuat dalam ingatan anda, kemudian anda memulai hafalan baru dengan cara yang sama seperti yang anda lakukan ketika menghafal ayat-ayat sebelumnya.

BAGIMANA CARA MENGGABUNG ANTARA MENGULANG (MURAJA'AH) DAN MENAMBAH HAFALAN BARU?
Jangan sekali-kali anda menambah hafalan tanpa mengulang hafalan yang sudah ada sebelumya, karena jika anda menghafal al quran terus-menerus tanpa mengulangnya terlebih dahulu hingga bisa menyelesaikan semua al quran, kemudian anda ingin mengulangnya dari awal niscaya hal itu akan terasa berat sekali, karena secara tidak disadari anda akan banyak kehilangan hafalan yang pernah dihafal dan seolah-olah menghafal dari nol, oleh karena itu cara yang paling baik dalam meghafal al quran adalah dengan mengumpulkan antara murajaah (mengulang) dan menambah hafalan baru. Anda bisa membagi seluruh mushaf menjadi tiga bagian, setiap 10 juz menjadi satu bagian, jika anda dalam sehari menghafal satu halaman maka ulangilah dalam sehari empat halaman yang telah dihafal sebelumnya hingga anda dapat menyelesaikan sepuluh juz, jika anda telah menyelesaikan sepuluh juz maka berhentilah selama satu bulan penuh untuk mengulang yang telah dihafal dengan cara setiap hari anda mengulang sebanyak delapan halaman.
Setelah satu bulan anda mengulang hafalan, anda mulai kembali dengan menghafal hafalan baru sebanyak satu atau dua lembar tergantung kemampuan, dan mengulang setiap harinya 8 halaman sehingga anda bisa menyelesaikan 20 juz, jika anda telah menghafal 20 juz maka berhentilah menghafal selama 2 bulan untuk mengulang, setiap hari anda harus mengulang 8 halaman, jika sudah mengulang selama dua bulan, maka mulailah enghafal kembali setiap harinya satu atau dua halaman tergantung kemampuan dan setiap harinya mengulang apa yang telah dihafal sebanyak 8 lembar, hingga anda bisa menyelesaikan seluruh al-qur an.
Jika anda telah menyelesaikan 30 juz, ulangilah 10 juz pertama secara tersendiri selama satu bulan setiap harinya setengah juz, kemudian pindahlah ke 10 juz berikutnya juga setiap harinya diulang setengah juz ditambah 8 halaman dari sepuluh juz pertama, kemudian pindahlah untuk mengulang sepuluh juz terakhir dengan cara yang hampir sama, yaitu setiapharinya mengulang setengah juz ditambah 8 halaman dari 10 juz pertama dan 8 halaman dari 10 juz kedua.

BAGAIMANA CARA MENGULANG AL-QURAN (30 JUZ) SETELAH MENYELESAIKAN MURAJAAH DIATAS?
Mulailah mengulang al-qur an secara keseluruhan dengan cara setiap harinya mengulang 2 juz, dengan mengulangnya 3 kali dalam sehari, dengan demikian maka anda akan bisa mengkhatamkan al-Quran setiap dua minggu sekali.
Dengan cara ini maka dalam jangka satu tahun insya Allah anda telah mutqin (kokoh) dalam menghafal al qur an, dan lakukanlah cara ini selama satu tahun.

APA YANG DILAKUKAN SETELAH MENGHAFAL AL QUR AN SELAMA SATU TAHUN?
Setelah menguasai hafalan dan mengulangnya dengan itqan (mantap) selama satu tahun, jadikanlah al qur an sebagai wirid harian anda hingga akhir hayat, karena itulah yang dilakukan oleh Nabi  semasa hidupnya, beliau membagi al qur an menjadi tujuh bagian dan setiap harinya beliau mengulang setiap bagian tersebut, sehingga beliau mengkhatamkan al-quran setiap 7 hari sekali.
Aus bin Huzaifah rahimahullah; aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah bagiamana cara mereka membagi al qur an untuk dijadikan wirid harian? Mereka menjawab: "kami kelompokan menjadi 3 surat, 5 surat, 7 surat, 9 surat, 11 surat, dan wirid mufashal dari surat qaaf hingga khatam ( al Qur an)". (HR. Ahmad).
Jadi mereka membagi wiridnya sebagai berikut:
Hari pertama: membaca surat "al fatihah" hingga akhir surat "an-nisa",
Hari kedua: dari surat "al maidah" hingga akhir surat "at-taubah",
Hari ketiga: dari surat "yunus" hingga akhir surat "an-nahl",
Hari keempat: dari surat "al isra" hingga akhir surat "al furqan",
Hari kelima: dari surat "asy syu'ara" hingga akhir surat "yaasin",
Hari keenam: dari surat "ash-shafat" hingga akhir surat "al hujurat",
Hari ketujuh: dari surat "qaaf" hingga akhir surat "an-naas".

Para ulama menyingkat wirid nabi dengan al-Qur an menjadi kata: " Fami bisyauqin ( فمي بشوق ) ", dari masing-masing huruf tersebut menjadi symbol dari surat yang dijadikan wirid Nabi pada setiap harinya maka:
huruf "fa" symbol dari surat "al fatihah", sebagai awal wirid beliau hari pertama,
huruf "mim" symbol dari surat "al maidah", sebagai awal wirid beliau hari kedua,
huruf "ya" symbol dari surat "yunus", sebagai wirid beliau hari ketiga,
huruf "ba" symbol dari surat "bani israil (nama lain dari surat al isra)", sebagai wirid beliau hari keempat,
huruf "syin" symbol dari surat "asy syu'ara", sebagai awal wirid beliau hari kelima,
huruf "wau" symbol dari surat "wa shafaat", sebagai awal wirid beliau hari keenam,
huruf "qaaf" symbol dari surat "qaaf", sebagai awal wirid beliau hari ketujuh hingga akhir surat "an-nas".

Adapun pembagian hizib yang ada pada al-qur an sekarang ini tidak lain adalah buatan Hajjaj bin Yusuf.

BAGAIMANA CARA MEMBEDAKAN ANTARA BACAAN YANG MUTASYABIH (MIRIP) DALAM AL-QUR AN?
Cara terbaik untuk membedakan antara bacaan yang hampir sama (mutasyabih) adalah dengan cara membuka mushaf lalu bandingkan antara kedua ayat tersebut dan cermatilah perbedaan antara keduanya, kemudian buatlah tanda yang bisa untuk membedakan antara keduanya, dan ketika anda melakukan murajaah hafalan perhatikan perbedaan tersebut dan ulangilah secara terus menerus sehingga anda bisa mengingatnya dengan baik dan hafalan anda menjadi kuat (mutqin).

KAIDAH DAN KETENTUAN MENGHAFAL:
1-Anda harus menghafal melalui seorang guru atau syekh yang bisa membenarkan bacaan anda jika salah.
2-Hafalkanlah setiap hari sebanyak 2 halaman, 1 halaman setelah subuh dan 1 halaman setelah ashar atau maghrib, dengan cara ini insya Allah anda akan bisa menghafal al-qur an secara mutqin dalam kurun waktu satu tahun, akan tetapi jika anda memperbanyak kapasitas hafalan setiap harinya maka anda akan sulit untuk menjaga dan memantapkannya, sehingga hafalan anda akan menjadi lemah dan banyak yang dilupakan.
3-Hafalkanlah mulai dari surat an-nas hingga surat al baqarah (membalik urutan al Qur an), karena hal itu lebih mudah.
4-Dalam menghafal hendaknya menggunakan satu mushaf tertentu baik dalam cetakan maupun bentuknya, hal itu agar lebih mudah untuk menguatkan hafalan dan agar lebih mudah mengingat setiap ayatnya serta permulaan dan akhir setiap halamannya.
5-Setiap yang menghafalkan al-quran pada 2 tahun pertama biasanya akan mudah hilang apa yang telah ia hafalkan, masa ini disebut masa "tajmi'" (pengumpulan hafalan), maka jangan bersedih karena sulitnya mengulang atau banyak kelirunya dalam hafalan, ini merupakan masa cobaan bagi para penghafal al-qur an, dan ini adalah masa yang rentan dan bisa menjadi pintu syetan untuk menggoda dan berusaha untuk menghentikan dari menghafal, maka jangan pedulikan godaannya dan teruslah menghafal, karena meghafal al-quran merupakan harta yang sangat berharga dan tidak tidak diberikan kecuali kepada orag yang dikaruniai Allah swt, akhirnya kita memohon kepada-Nya agar termasuk menjadi hamba-hamba-Nya yang diberi taufiq untuk menghafal dan mengamalkan kitabNya dan mengikuti sunnah nabi-Nya dalam kehidupan yang fana ini. Amin ya rabal 'alamin.

Cara Praktis Menghafal Al Quran
أسهل طريقة لحفظ القرآن الكريم

Disusun Oleh:
Dr. Abdul Muhsin Al Qasim
( Imam dan Khatib masjid Nabawi)

sumber: islamhouse.com
Selengkapnya...

Kamis, 22 Juli 2010

Mengatasi Anak Pemalu

Assalamua'alaikum Wr.Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi yang saya hormati, saya sangat kagum dengan Nisa anak teman satu pengajian yang baru berumur 3 tahun. Nisa kecil adalah seorang anak yang penuh percaya diri, riang dan lincah, tidak pernah takut bertanya ini itu dan dengan mantap menyapa orang yang baru dikenalnya. Kondisi ini sangat berbeda dengan Rida (3 tahun), anak saya. Setiap kali bertemu orang baru, Rida selalu ingin terus-menerus berada dekat saya, menyembunyikan diri di balik jilbab saya, tidak mau diajak bicara dan tidak mau melakukan kontak mata. Situasi ini kadang membuat saya menjadi tidak nyaman, merepotkan dan tak jarang saya menjadi malu dan sedikit "jengkel" dengan perilakunya. Apakah hal semacam ini normal saja, apa dampak yang akan timbul akibat sifat pemalu, dan Bagaimana sebaiknya saya harus mengatasinya. Jazakillah atas masukan dan sarannya.


Wassalamu'alaikum Wr.Wb


Ella


Yogya.




Wa'alaikumsalam Wr.Wb

Ibu Ella yang baik, anak yang pemalu biasanya cenderung untuk menarik diri dari lingkungan sekitar. Kecenderungan menarik diri ini sudah bisa dilihat sejak masa kanak-kanak, bahkan sejak bayi. Kita terkadang melihat ada bayi-bayi yang menangis jika didekati atau dipegang orang lain selain ibunya. Sebaliknya ada juga bayi-bayi yang tidak pemalu, mereka membiarkan dirinya berada dekat orang lain, dan tidak menolak digendong oleh orang yang tidak dikenal. Anak pemalu ketika bertemu dengan orang lain biasanya akan menghindari kontak mata, tidak banyak bicara. Jika ditanya, menjawab seperlunya "ya", "tidak", "tidak tahu". Jika anak sudah sekolah biasanya tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan di kelas, malu bertanya, tidak mau diminta ke depan kelas untuk menyanyi, memimpin doa atau sekedar menunjukkan tangan jika dipanggil namanya.

Ibu Ella yang baik, pada dasarnya pemalu bukanlah merupakan abnormalitas. Yang sering menjadi persoalan justru akibat dari pemalu itu sendiri. Misalnya, ketika anak kita berada di rumah teman/tetangga, dan ingin buang air kecil tetapi malu minta izin ke kamar mandi, sehingga menahan keinginan buang air, dan akhirnya malah mengompol. Pemalu juga dapat menjadi masalah, jika sifat ini menyebabkan potensi anak menjadi tidak tergali dan tidak berkembang secara optimal. Lingkungan memegang peranan penting terhadap pembentukan sifat pemalu ini. Mestinya orang tua menerima sifat pemalu anak apa adanya tanpa mempermasalahkannya. Dorong anak untuk berani keluar dan menghadapi dunia luar dengan percaya diri, sehingga ia merasa kompeten, dan berkembang sesuai dengan potensi yang ada di dalam dirinya. Mendorong seorang anak pemalu untuk berani menghadapi dunia luar tidak bisa dilakukan secara tiba-tiba, tetapi harus dilakukan secara bertahap.

Ibu Ella yang baik, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk membantu si kecil mengatasi rasa malunya:

Pertama, jangan mengolok-olok sifat pemalu anak ataupun memperbincangkannya di depan anak tersebut. Misalnya dengan mengatakan "kamu sih pemalu", "iya loh Bu, anak saya ini pemalu sekali, sampai kadang-kadang saya repot sekali", dan lain-lain. Dengan mengatakan hal-hal ini semacam ini, anak dapat merasa tidak diterima sebagaimana dia adanya. Kedua, cari tahu kesukaan dan potensi anak, lalu doronglah untuk berani melakukan hal-hal tertentu, lewat media hobi dan potensi diri. Ketiga, ajaklah anak secara rutin berkunjung ke rumah teman, tetangga atau kerabat dan bermain di sana. Kunjungan sebaiknya dilakukan pada teman-teman yang berbeda. Selain secara rutin berkunjung, juga sebaiknya mengundang anak-anak tetangga atau teman-teman sekolah untuk bermain di rumah. Keempat, jika memungkinkan, ajaklah si kecil ketika Anda datang ke pengajian, atau acara-acara lain yang di situ berkumpul banyak orang. Kelima, lakukan role-playing (bermain peran) bersama anak. Role-playing dapat dilakukan pada berbagai situasi, berpura-pura di toko, berpura-pura di sekolah, berpura-pura ada di panggung, dan lain-lain. Keenam, jadilah contoh buat anak, jangan hanya mendorong anak untuk percaya diri, tetapi tunjukkan pada anak bahwa Anda orang tua yang percaya diri. Anak biasanya mengamati dan belajar dari perilaku orang tuanya sendiri. Apapun usaha yang dilakukan, tetaplah dampingi anak jangan langsung dilepaskan sendiri. Anak mulai bisa dibiarkan melakukan seorang diri, jika rasa percaya dirinya sudah berkembang. Demikian ibu Ella, mudah-mudahan si kecil Rida menjadi anak yang shalihah dan membanggakan orang tuanya...

Dra (Psi) Zulia Ilmawati

sumber: mediaumat.com
Selengkapnya...

BUKU TAMU


ShoutMix chat widget

FOLLOWER